Pedihnya Pengharapan

Teruntuk seorang dan namanya yang selalu kusebut.
Terucap mengalir dikeheningan malam, terbang tinggi nan jauh sampai pada tempat Pemilik segala doa-doa.
Aku yang hatinya tengah dirundung kerinduan yang amat dalam akan engkau.
Entah sampai kapan akan berakhir.
Terus menyiksa dan menyesakkan dada.
Memang begini rasanya memendam rasa diam-diam.
Rasa yang hanya dimiliki ku saja.
Tidak engkau karena engkau tengah jua dirindung asmara hanya untuk dia, gadis pilihan hatimu.
Ini yang kusebut pedihnya pengharapan.
Seperti hadist yang pernah kudengar “Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan kepada kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui betapa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNYA.” -Imam Syafi’i.
Semoga hatimu beruntung tidak merasakannya dan beroleh balasan rasa yg sama atas gadis pilihan hatimu.
Aku hanya ingin melihat bahagiamu terlebih dulu, sebelum bahagiaku.
Biarlah hati ini terus merana krn tak beroleh balasan rasa dr engkau. Asal bisa terus melihatmu bahagia, sudah cukup membuat bahagiaku juga.
Aku akan terus berdiri tegak melihatmu bahagia walau butiran air yang keluar dari mata membanjiri tanah.
Semoga Allah SWT selalu memberimu rahmat dan ridhoNYA, diberi bahagia seperti inginmu, dilindungi dari macam marabahaya..

Maaf dariku, wanita yang sengsara karena terlalu cinta pada makhlukNYA.

Iklan

Chapter 1 – Sarapan Galau

Pukul 3 pagi di hari Minggu, alarm di ponselku berdering. Sengaja aku setting pukul segitu agar bisa bangun untuk sholat tahajjud.

Aku yang satu kosan dan satu kamar dengan Briana, mengguncangkan pelan tubuhnya.

“Briana, Bri, bangun yuk, kita sholat tahajjud.”

Aku tengok ke arah wajahnya, yang tidurnya membelakangiku, ah pules sekali. Aku jadi tak tega membangunkannya.

Yaa, karena kami semalam tidur jam 1. Malam minggu kita diisi dengan sesi curhat.

Aku dengan tema ditinggal nikah sama mantan yang sudah 3,5tahun berpisah. Sedangkan status hubungan Briana digantung tidak jelas oleh pacar barunya.

“Bri, loe harus kuat ya. Tinggalin aja cowok kayak gitu. Dari awal gue udah mempertanyakan, apa loe yakin memulai hubungan dengan orang yang belum loe kenal betul?” Sambil mengusap lengan Briana yang masih tertidur pulas.

03.15 aku bergegas ambil air wudhu. Lalu melaksanakan sholat taubat dan tahajjud.

Sambil menunggu adzan subuh, aku mengambil Al-Quran dan membacanya.

***

Seusai sholat subuh aku mendengar rintihan tangis, aku menoleh kanan dan kiri mencari sumber rintihan itu.

Alahmak, ternyata Briana. Entah sejak kapan dia sudah bangun.

“Bri, kenapa loe? Subuh-subuh udah nangis. Gue kira tadi suara kunti yang lagi nangis.”

“Entahlah, Ra. Hati gue kok ngerasain sakit ya? Gue bingung sama sikap Rio. Gue salah apa ya, Ra?” Rintih Briana yang lagi memandangi pria berwajah putih bersih di ponselnya. “Kiara, bantu gue dong. Gue harus bersikap gimana?”

“Wait.. wait.. Sejak kapan loe bangun? Dan sejak kapan loe nangis gini?”

“Pas loe baca Qur’an.”

“Terus loe gak bergegas bangun, ambil wudhu dan sholat subuh, malah langsung ambil HP dan gegalauan?” Mendelik ke Briana.

“Ya ampun, Briiiiiiiiii. Harusnya loe tuh dapet pahala gede karena sholat tepat waktu”

Tangisan Briana malah makin kenceng.

“Ra, apa gue harus melakukan yang loe bilang semalem ya?”

“Hhmm, yang mana tuh, Bri?”

“Tinggalin dia.”

“Woooo yaiyalah. Bri, hidup itu terus berjalan, kalo loe cuma bergerak di satu titik, loe bakal ketinggalan jauh. Dari segi manapun. Jangan terlalu fokus sama dia yang belum jelas ya, Bri.”

Briana menarikku dan memeluk. “Ra, tetep nasehatin dan ingetin gue ya.. Gue nyesel gak ngikutin omongan loe dari awal tapi gue juga gak bisa ngelupain dia”

“Pasti, Bri. Karena itu gunanya sahabat. Dan gak perlu menyesali yang sudah terjadi, ambil pelajaran dari semua itu untuk acuan kehidupan loe berikutnya. Bri, untuk melupakan itu butuh proses, bukan cuma sehari, dua hari atau tiga hari. Loe bukan gak bisa ngelupain dia, tapi belum bisa. Gue tau rasanya sulit melupakan karena gue pernah ada di posisi loe. Pernah galau juga dan nangis-nangis kayak loe, tapi coba loe pikir deh dengan keterpurukan yang seperti itu, loe dapat apa? Rugi, Bri, menyiksa diri loe sendiri.”

Briana berhenti menangis dan melepaskan pelukannya. Aku yang berada didepannya, menyeka air matanya dengan mukena yang masih aku kenakan.

“Ra, gue salut sama loe. Kagum sama loe. Loe masih menyimpan perasaan buat Keenan, mantan loe yang udah 3,5 tahun putus, bahkan Minggu depan Keenan mau nikah sama pilihannya. Loe juga harus move on, Ra. Cari pacar baru buat nemenin hidup loe.”

“Ah elo, Bri. Ya nggak harus punya pacar baru kali cuma buat nemenin hidup gue. Ya iya kalo nanti dia adalah orang yang Allah pilih buat mendampingi gue, sehidup – sesurga pula, kan romantis. Kalo nggak, gimana? Gue cuma gak mau mengulang sakit hati yang pernah gue rasakan. Dan ya, beberapa bulan lalu, Keenan pernah hubungin gue dan akhirnya kita ketemuan, bicarain…..”

“Terus terus…” Selak Briana yang gak sabar denger cerita yang gak sempet aku sampaikan semalem.

“Ih ni orang, belum juga selesai cerita udah diselak aja.” Lempar bantal ke muka Briana.

“Gue penasaran, Ra. Gimana tuh perasaan loe pas ketemu dia lagi?”

“Jujur agak canggung, karena kita udah lama banget gak ketemu. Terakhir denger kabar, dia ngelanjutin S2 di Aussie itupun sekitar 6 bulan setelah kita putus.”

“Loe putus karena apa sih? Kayaknya kalian itu menjalani tanpa ada masalah, baik-baik aja.”

That’s the point. Yang akan gue ceritain nanti setelah loe sholat subuh. Udah jam 5.39 tuuuh. Gue gak mau tercatat di buku keburukan gue karena menunda-nunda sholat loe.”

“Iya iya, Boss…”

“Bri, loe mau sarapan apa? Gue bikinin sarapan deh buat kita.”

“Gak usah, Ra. Gue udah kenyang.” Briana melipir ke kamar mandi.

“Kapan loe sarapan? Kan bangun tidur, loe nangis trus cerita ke gue.” Nadaku keras supaya terdengar sampai dalam kamar mandi oleh Briana.

“Khusus pagi ini, menu sarapan gue adalah galau.” Dengan keusilan Briana yang narik ujung kepala kerudungku.

***

Biar Langit Saja

Malam ini, aku gantung lagi satu rindu pada langit gelap. Biar langit saja yang menceritakan, semua tumpukan rinduku padamu. Berbisik lewat angin.

Biar langit saja yang menceritakan, bagaimana rindunya aku pada lengkungan senyum di wajahmu.

Biar langit saja yang menceritakan, betapa rindunya aku pada tingkah lucumu.

Biar langit saja yang menceritakan, rinduku akan tulusmu.

Biarkan langit menceritakan semua padamu di saat gelap malam dan berbisik lewat angin.

Gerbong Kereta Ceria dan Perut Karung

Berdiri menunggu kereta di stasiun Parung Panjang. Kereta datang. Pintu terbuka dan aku masuk. Menyusuri lorong kereta, menatap kanan dan kiri mencari bangku kosong. Menatap banyak sekali mata lelah setelah penat bekerja. Terus berjalan dan aku memilih gerbong penuh warna, gerbong kedua.

Yaa, ada banyak anak kecil sedang senda gurau dengan teman yang lainnya. Tak ada beban, tak punya masalah, have fun sekali. Ada balita lelaki berbadan gempal, kutaksir usianya 2 tahun. Lucu, gemas. Dia melirikku dan aku melihatnya serasa ada bakpao menempel di kedua pipinya yang berisi strawberry coklat melt. Omnomnomnom yummy! Ah respon perutku sangat cepat setelah mata menatap ada bakpao menggelayut. Tidak salah teman-teman menyebutku si perut karung, banyak makan tapi badan tak besar-besar. Mungkin yang beruntung adalah cacing-cacing yang ada dalam perutku.

Tiba di Stasiun Tanah Abang, aku berpisah dengan mereka-mereka yang ceria dan balita itu. Goodbye, semoga kita bertemu kembali.

Aku menuju pintu exit, mataku langsung menangkap sesuatu yang menarik perhatianku. Kuhampiri seperti orang yang mau ngajak ribut.

Dan kukatakan, “Bang, bakponya ya, lima, rasa coklat.” Hatiku lanjut melirih, “lumayan buat cemilan malam mingguan.”

Pulang

Angin sore ini tertiup, awan mulai gelap, senja mulai membenamkan diri. Aku yang sedari tadi berdiri, menunggu. Entah menunggu siapa ? Angkutan umum yang membawaku pulang ? Bukan. Setiap menit selalu lewat dihadapan, tapi tak satupun aku melambaikan tangan untuk memberhentikannya. Ojek ? Juga bukan. Aku tak tahu persis berapa ongkos yang dikeluarkan dengan jarak 30 km dari kampus sampai rumah. Lalu siapa yang aku tunggu? Seseorang dari masa lalu.

Yang kuharapkan lewat dengan motor merahn dihadapanku. Menawarkan tumpangannya dan mengantarkanku sampai depan rumah. Akh itu sangat mustahil, apa pedulinya sampai dia mau mengantarkanku pulang? Toh aku dan dia sudah tidak bersama lagi. Aku bertengkar dengan pikiranku sendiri, hati tersayat terasa perih. Meluluhlantakkan jiwa.

“Sudah kubilang, kamu tidak usah mengharapkan dia yang sudah tidak peduli. Salahmu.” Akal positifku berbicara.

Di sisi lain, pikiran negatifku tidak mau kalah.

“Tuh kan dia gak lewat-lewat. Paling sekarang lagi nganterin cewek lain, udah punya yang baru.”

Hatiku bergemuruh, seperti gunung yang akan mengeluarkan laharnya.

“Udaaaaahhhh! Cukup! Berhenti!”

Seperti itu yang ada dalam diriku. Tidak bisa berdamai.

Bodohnya, aku terus menunggu yang tidak pasti sampai berjam-jam. Bodoh, sungguh bodoh. Apa yang aku harapkan dari yang sudah pergi?

Segera aku berhentikan angkutan umum berwarna putih, jurusan Ciputat. Kupasang earphone dan ku play lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, agar hati dan pikiran damai menerima takdirNYA.

Kalian

Alhamdulillah wa syukurillah..

Allah mentakdirkanku untuk bertemu kalian, wahai sahabat.

Kalian punya tempat istimewa.

Kenapa di tempat istimewa ?

Jika aku berkumpul dengan kalian, seperti semangatku bertambah. Ada sesuatu yang mengalir deras dalam tubuhku. Bukan cuma itu. Imanku seperti terisi full. Ah, aku senang kalau berkumpul dengan kalian.

Manisnya ukhuwah kurasakan bersama kalian. Semoga akan tetap terjaga sampai Allah mentakdirkan kita berpisah oleh maut.

LuNuMu Lillah -.^)

Chapter 1

Malam itu Arya mengirim sms kepada Nindya.

“Assalamu’alaykum, lg apa Nin ?”

“Wa’alaikumsalam wr wb. Lg nonton tv nih, Ar.”

“Nin, aku blh jujur gak sama km ?”

“Hhmm, aku jg mau bilang sesuatu sm km, Ar.”

“Oh ya? Klo gtu, km duluan deh yg bilang.”

“Eh eh, jgn jgn. Km aja duluan, kan km dluan yg sms aku.”

“Gmn yaa ?? Jd bingung ?”

“Kok bingung sih ?”

“Gini Nin, sebenernya aku syg bgt sm kamu. Apa km jg ngerasain hal yg sama ?”

Arya ketakutan, takut apa yang dia rasakan tidak seperti apa yang dibayangkan. Takut kalau Nindya tidak mempunyai perasaan yang sama. Cukup lama menunggu balasan dari Nindya. Arya mulai gelisah.

Sementara Nindya terkejut, karena apa yang ingin dia bilang ke Arya adalah hal yang sama. Dengan perasaan bahagia, dia pun membalas pesan Arya.

“Arya, aku jg ngerasain hal yg sama sejak pertama liat km. Km tau gak? Hal yg pngn aku bilang ke km ya ttg ini. Aku suka sm km, Ar.”

Lalu ponsel Arya berbunyi, menandakan ada sms masuk.

Arya buka sms dari Nindya, dan tidak menyangka dengan balasan yang dia terima.

Keduanya menutup malam dengan perasaan bahagia, perasaan cinta. Keduanya membangun komitmen untuk bersama sampai impian yang mereka harapkan tercapai.